Selasa, 27 Agustus 2019

HAKIKAT PENILAIAN PEMBELAJARAN





HAKIKAT PENILAIAN PEMBELAJARAN
Dosen :  Dr. Rifari Baron

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 menegaskan bahwa Pendidikan Nasional “berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Sedangkan dalam Permendikbud No. 66 tahun 2013 tentang Standar Penilaian Pendidikan dijelaskan bahwa fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut menjadi parameter utama untuk merumuskan Standar Nasional Pendidikan yang terdiri atas 8 (delapan) standar, salah satunya adalah Standar Penilaian Pendidikan yang bertujuan untuk menjamin: (a) perencanaan penilaian peserta didik sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai dan berdasarkan prinsip-prinsip penilaian, (b) pelaksanaan penilaian peserta didik secara profesional, terbuka, edukatif, efektif, efisien, dan sesuai dengan konteks sosial budaya; dan (c) pelaporan hasil penilaian peserta didik secara objektif, akuntabel, dan informatif.
Undang-undang baru yang di rancang oleh pemerintah tentang pendidikan  agar membuat anak didik lebih bisa berdiri sendiri tanpa harus dibantu oleh pendidik secara terus menerus. Model Penilaian Hasil Belajar Peserta Didik Standar Penilaian dan mengantarkan peserta didik mencapai kompetensi yang telah ditetapkan, meliputi kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan. Ciri penilaian adalah adanya objek atau program yang dinilai dan adanya kriteria sebagai dasar untuk membandingkan antara kenyataan atau apa adanya dengan kriteria atau apa harusnya. Penilaian proses belajar adalah upaya memberi nilai terhadap kegiatan belajar mengajar yang dilakukan oleh siswa dan guru dalam mencapai tujuan-tujuan pengajaran. Oleh sebab itu, penilaian hasil dan proses belajar saling berkaitan satu sama lain sebab hasil merupakan akibat dari proses.


B.  Rumusan Masalah
Apakah Hakikat dari Penilaian Pembelajaran?
C.  Tujuan
1. Untuk mengetahui Penilaian, Pengukuran, dan tes
2. Untuk mengetahui macam-macam komponen penilaian
3. Menerangkan Penilaian sebagai suatu proses




BAB II
PEMBAHASAN
A.    Hakikat Penilaian, Pengukuran, dan Tes
1.      Penilaian
Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka).  Penilaian yang dilakukan harus memiliki asas keadilan yang tinggi. Maksudnya, peserta didik diperlakukan sama sehingga tidak merugikan salah satu atau sekelompok peserta didik yang dinilai. Selain itu, penilaian tidak membedakan latar belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa, jender, dan agama. Penilaian juga merupakan bagian dari proses pendidikan yang dapat memacu dan memotivasi peserta didik untuk lebih berprestasi meraih tingkat yang setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuannya.
 Penilaian (assessment) adalah istilah umum yang mencakup semua metode yang biasa digunakan untuk menilai unjuk kerja individu atau kelompok peserta didik. Proses penilaian mencakup pengumpulan bukti yang menunjukkan pencapaian belajar peserta didik. Penilaian merupakan suatu pernyataan berdasarkan sejumlah fakta untuk menjelaskan karakteristik seseorang atau sesuatu (Griffin & Nix, 1991). Penilaian mencakup semua proses pembelajaran. Oleh karena itu, kegiatan penilaian tidak terbatas pada karakter­istik peserta didik saja, tetapi juga mencakup karakteristik metode mengajar, kurikulum, fasilitas, dan administrasi sekolah. Instrumen penilaian untuk peserta didik dapat berupa metode dan/atau prosedur formal atau informal untuk menghasilkan informasi tentang peserta didik. Instrumen penilaian dapat berupa tes tertulis, tes lisan, lembar pengamatan, pedoman wawancara, tugas rumah, dan sebagainya. Penilaian juga diartikan sebagai kegiatan menafsirkan data hasil pengukuran atau kegiatan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian kemajuan belajar peserta didik.
Penilaian merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Penilaian dalam KTSP adalah penilaian berbasis kompetensi, yaitu bagian dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Penilaian dalam KTSP adalah penilaian berbasis kompetensi, yaitu bagian dari kegiatan pembelajaran yang dilakukan untuk mengetahui pencapaian kompetensi peserta didik yang meliputi pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Penilaian dilakukan selama proses pembelajaran dan/atau pada akhir pembelajaran. Fokus penilaian pendidikan adalah keberhasilan belajar peserta didik dalam mencapai standar kompetensi yang ditentukan. Pada tingkat mata pelajaran, kompetensi yang harus dicapai berupa Standar Kompetensi (SK) mata pelajaran yang selanjutnya dijabarkan dalam Kompetensi Dasar (KD). Untuk tingkat satuan pendidikan, kompetensi yang harus dicapai peserta didik adalah Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Kualitas Pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan satuan pendidikan dalam mengelola proses pembelajaran. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut. Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu.
Pengajar harus mengetahui sejauh mana pelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai. Ditinjau dari sudut Profesionalisme tugas kependidikan, kegiatan penilaian merupakan salah satu ciri yang melekat pada pendidik Profesional. Seorang Pendidik Profesional selalu menginginkan umpan balik atas proses pembelajaran yang dilakukannya. Hal tersebut dilakukan karena salah satu indikator keberhasilan pembelajaran ditentukan oleh tingkat keberhasilan yang dicapai peserta didik. Dengan demikian, hasil penilaian dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran dan umpan balik bagi pendidik untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang dilakukan.
a)                  Menurut Buana (www.fajar.co.id/news.php), assessment adalah alih-bahasa dari istilah penilaian. Penilaian digunakan dalam konteks yang lebih sempit daripada evaluasi dan biasanya dilaksanakan secara internal. Penilaian atau assessment adalah kegiatan menentukan nilai suatu objek, seperti baik-buruk, efektif-tidak efektif, berhasil-tidak berhasil, dan semacamnya sesuai dengan kriteria atau tolak ukur yang telah ditetapkan sebelumnya.
b)       Menurut Angelo (1991: 17) Classroom Assessment is a simple method faculty can use to collect feedback, early and often, on how well their students are learning what they are being taught. (Penilaian Kelas adalah suatu metode yang sederhana dapat menggunakan fakultas (sekolah) untuk mengumpulkan umpan balik, awal dan setelahnya, pada seberapa baik para siswa mereka belajar apa yang mereka ajarkan.)
c)        Menurut Suharsimi yang dikutip oleh Sridadi(2007), penilaian adalah suatu usaha yang dilakukan dalam pengambilan keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik-buruk →bersifat kualitatif.
d)       Zainul, Asmawi dan Noehi Nasution (2001), mengartikan penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun nontes.
e)        Overton, Terry (2008): Assesment is a process of gathering information to monitor progress and make educational decisions if necessary. As noted in my definition of test, an assesment may include a test, but also include methods such as observations, interview, behavior monitoring, etc. (Artinya: penilaian adalah suatu proses pengumpulan informasi untuk memonitor kemajuan dan bila diperlukan pengambilan keputusan dalam bidang pendidikan. Sebagaimana disebutkan dalam definisi saya tentang tes, suatu asesmen bisa saja terdiri dari tes, atau bisa juga terdiri dari berbagai metode seperti observasi, wawancara, monitoring tingkah laku, dan sebagainya).
2.      Pengukuran
Definisi pengukuran :
a)        Menurut aturan tertentu (Guilford, 1982) : Pengukuran (measurement) adalah proses penetapan ukuran terhadap suatu gejala Pengukuran pendidikan berbasis kompetensi berdasar pada klasifikasi observasi unjuk kerja atau kemam­puan peserta didik dengan menggunakan suatu standar.
b)       Menurut Cangelosi (1995) yang dimaksud dengan pengukuran (Measurement) adalah suatu proses pengumpulan data melalui pengamatan empiris untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan tujuan yang telah ditentukan.
c) Menurut Zainul dan Nasution (2001) pengukuran memiliki dua karakteristik utama yaitu:
1).     Penggunaan angka atau skala tertentu.
2).    Menurut suatu aturan atau formula tertentu.
d) Arikunto dan Jabar (2004) menyatakan pengertian pengukuran (measurement) sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.
e) Sridadi (2007) pengukuran adalah suatu proses yang dilakukan secara sistematis untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu obyek tertentu dengan menggunakan alat ukur yang baku.
Pengukuran dapat menggunakan tes dan non-tes. Pengukuran Pendidikan bisa bersifat kuantitatif atau kualitatif. Kuantitatif hasilnya berupa angka, sedangkan kualitatif hasilnya bukan angka (berupa predikat atau pernyataan kualitatif, misalnya sangat baik, baik, cukup, kurang, sangat kurang), disertai deskripsi penjelasan prestasi peserta didik. Dalam hal ini guru menaksir prestasi siswa dengan membaca atau mengamati apa saja yang dilakukan siswa, mengamati kinerja mereka, mendengar apa yang mereka katakan, dan menggunakan indera mereka seperti melihat, mendengar, menyentuh, mencium, dan merasakan.

3.      Tes/Pengujian
Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas. Secara khusus, dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas. Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan informasi itu, dapat dibuat keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya bimbingan yang diperlukan serta keberadaan kurikukulum itu sendiri. 
Tes/Pengujian merupakan bagian dari pengukuran yang dilanjutkan dengan kegiatan penilaian. Seorang pendiidk yang Profesional dapat menguji anak didik dengan melihat keaktifan yang di lakukan setiap harinya di kelas dalam proses belajar sehingga dapat di lanjutkan dengan penilaian, apakah anak didik tersebut mengerti dengan bahan ajar yang telah di berikan. Pengujian di lakukan tidak hanya di lakukan terhadap anak didik yang kurang pandai tetapi bisa di lakukan terhadap anak didik yang pandai.
Dalam rancangan penilaian, tes dilakukan secara berkesinambungan melalui berbagai macam ulangan dan ujian. Ulangan meliputi ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, dan ulangan kenaikan kelas. Sedangkan ujian terdiri atas ujian nasional dan ujian sekolah.
Ulangan adalah proses yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk melakukan perbaikan pembelajaran, memantau kemajuan dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu kompetens dasar (KD) atau lebih.
Ulangan tengah semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah melaksanakan 8 –9 minggu kegiatan pembelajaran. Cakupan ulangantengah semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.

Ulangan akhir semester adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester. Cakupan ulangan akhir semester meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut. Ulangan kenaikan kelas adalah kegiatan yang dilakukan oleh pendidik pada akhir semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik pada akhir semester genap pada satuan pendidikan yang menggunakan sistem paket. Cakupan ulangan kenaikan kelas meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester genap. Ujian adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai pengakuan prestasi belajar dan/atau penyelesaian dari suatu satuan pendidikan.
Ujian nasional adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik pada beberapa mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan.
Ujian sekolah adalah kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi peserta didik yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh pengakuan atas prestasi belajar dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan. Mata pelajaran yang diujikan pada ujian sekolah adalah mata pelajaran pada kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan pada ujian nasional, dan aspek kognitif dan/atau psikomotorik untuk kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian.

B.     Penilian dan komponen Penilaian
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian hasil belajar peserta didik antara lain:
1.     Penilaian ditujukan untuk mengukur pencapaian kompetensi;
2.     Penilaian menggunakan acuan kriteria yakni berdasarkan pencapaian kompetensi peserta didik setelah mengikuti proses pembelajaran;
3.      Penilaian dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan;
4.      Hasil penilaian ditindaklanjuti dengan program remedial bagi peserta didik yang pencapaian kompetensinya di bawah kriteria ketuntasan dan program pengayaan bagi peserta didik yang telah memenuhi kriteria ketuntasan;
5.      Penilaian harus sesuai dengan kegiatan pembelajaran.

Adapun prinsip-prinsip yang harus diperhatikan oleh guru pada saat melaksanakan penilaian untuk implementasi Kurikulum 2013 baik pada jenjang pendidikan dasar (SD/MI) maupun pada jenjang pendidikan menengah (SMP/MTs, SMA/MA dan SMK/MAK) adalah:
1.      Sahih
Penilaian yang dilakukan haruslah sahih, maksudnya penilaian didasarkan pada data yang memang mencerminkan kemampuan yang ingin diukur.
2.      Objektif
Penilaian yang objektif adalah penilaian yang didasarkan pada prosedur dan kriteria yang jelas dan tidak boleh dipengaruhi oleh subjektivitas penilai (guru).
3.      Adil
Penilaian yang adil maksudnya adalah suatu penilaian yang tidak menguntungkan atau merugikan siswa hanya karena mereka (bisa jadi) berkebutuhan khusus serta memiliki perbedaan latar belakang agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan gender.
4.      Terpadu
Penilaian dikatakan memenuhi prinsip terpadu apabila guru yang merupakan salah satu komponen tidak terpisahkan dari kegiatan pembelajaran.
5.      Terbuka
Penilaian harus memenuhi prinsip keterbukaan di mana kriteria penilaian, dan dasar pengambilan keputusan yang digunakan dapat diketahui oleh semua pihak yang berkepentingan.
6.      Menyeluruh dan berkesinambungan
Penilaian harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan oleh guru dan mesti mencakup segala aspek kompetensi dengan menggunakan berbagai teknik penilaian yang sesuai. Dengan demikian akan dapat memantau perkembangan kemampuan siswa.
7.      Sistematis
Penilaian yang dilakukan oleh guru harus terencana dan dilakukan secara bertahap dengan mengikuti langkah-langkah yang baku.
8.       Beracuan kriteria
Penilaian dikatakan beracuan kriteria apabila penilaian yang dilakukan didasarkan pada ukuran pencapaian kompetensi yang ditetapkan.
9.       Akuntabel
Penilaian yang akuntabel adalah penilaian yang proses dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan, baik dari segi teknik, prosedur, maupun hasilnya.
10.    Edukatif
Penilaian disebut memenuhi prinsip edukatif apabila penilaian tersebut dilakukan untuk kepentingan dan kemajuan pendidikan siswa.



Menurut Kurikulum 2013, penilaian yang dilakukan harus menggunakan pendekatan-pendekatan berikut:
a.   Acuan Patokan
Dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 pada aspek penilaiannya, maka semua kompetensi perlu dinilai dengan menggunakan acuan patokan berdasarkan pada indikator hasil belajar. Sekolah terlebih dahulu harus menetapkan acuan patokan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
b.   Ketuntasan Belajar
Ketuntasan belajar menurut kurikulum 2013 ditentukan sebagai berikut:
          i.     Ketuntasan belajar dan konversi nilai menurut Kurikulum 2013
         ii.     Ketuntasan belajar dan konversi nilai menurut Kurikulum 2013
Untuk KD pada KI-3 dan KI-4, siswa dapat dikatakan belum tuntas belajar untuk menguasai KD yang dipelajarinya bila menunjukkan indikator nilai < 2.66 dari hasil tes formatif. Untuk KD pada KI-3 dan KI-4, siswa dinyatakan sudah tuntas belajar untuk menguasai KD yang dipelajarinya apabila menunjukkan indikator nilai ≥ 2.66 dari hasil tes formatif. Untuk KD pada KI-1 dan KI-2, ketuntasan siswa dilakukan dengan memperhatikan aspek sikap pada KI-1 dan KI-2 untuk seluruh matapelajaran, yakni jika profil sikap siswa secara umum berada pada kategori baik (B) menurut standar yang ditetapkan satuan pendidikan yang bersangkutan.
Adapun implikasi dari adanya persyaratan ketuntasan belajar tersebut adalah sebagai berikut.
  i.     Untuk KD pada KI-3 dan KI-4: diberikan remedial individual sesuai dengan kebutuhan kepada peserta didik yang memperoleh nilai kurang dari 2.66;
 ii.     Untuk KD pada KI-3 dan KI-4: diberikan kesempatan untuk melanjutkan pelajarannya ke KD berikutnya kepada peserta didik yang memperoleh nilai 2.66 atau lebih dari 2.66; dan
iii.     Untuk KD pada KI-3 dan KI-4: diadakan remedial klasikal sesuai dengan kebutuhan apabila lebih dari 75% peserta didik memperoleh nilai kurang dari 2.66.
iv.     Untuk KD pada KI-1 dan KI-2, pembinaan terhadap peserta didik yang secara umum profil sikapnya belum berkategori baik dilakukan secara holistik (paling tidak oleh guru matapelajaran, guru BK, dan orang tua).
Ø  Karakteristik Penilaian Menurut Kurikulum 2013
a)      Belajar Tuntas
Untuk kompetensi pada kategori pengetahuan dan keterampilan (KI-3 dan KI-4), siswa tidak diperkenankan mengerjakan pekerjaan berikutnya, sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan dengan prosedur yang benar dan hasil yang baik. Asumsi yang digunakan dalam belajar tuntas adalah siswa dapat belajar apapun, hanya waktu yang dibutuhkan yang berbeda. Siswa yang belajar lambat perlu waktu lebih lama untuk materi yang sama, dibandingkan siswa pada umumnya.
b)      Otentik
Memandang  penilaian  dan  pembelajaran  secara  terpadu. Penilaian otentik harus mencerminkan masalah dunia nyata, bukan dunia sekolah. Menggunakan berbagai cara dan kriteria holistik (kompetensi utuh merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan sikap). Penilaian otentik tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh siswa, tetapi lebih menekankan mengukur apa yang dapat dilakukan oleh siswa.
c)      Berkesinambungan
Tujuannya adalah untuk mendapatkan gambaran yang utuh mengenai perkembangan hasil belajar siswa, memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil terus menerus dalam bentuk penilaian proses, dan berbagai jenis ulangan secara berkelanjutan (ulangan harian, ulangan tengah semester, ulangan akhir semester, atau ulangan kenaikan kelas).
d)     Berdasarkan acuan kriteria
Kemampuan siswa tidak dibandingkan terhadap kelompoknya, tetapi dibandingkan terhadap kriteria yang ditetapkan, misalnya ketuntasan minimal, yang ditetapkan oleh satuan pendidikan masing-masing.
e)      Menggunakan  teknik penilaian yang bervariasi
Teknik penilaian yang dipilih dapat berupa tertulis, lisan, produk, portofolio, unjuk kerja, projek, pengamatan, dan penilaian diri.


C.    Penilaian Sebagai Suatu Proses
1.      Penilaian dan Proses Pembelajaran
Salah satu tugas dalam profesi keguruan adalah melakukan penilaian terhadap setiap kegiatan yang terselenggara dalam proses pembelajaran. Hal ini berpangkal dari suatu fakta yang bersifat kodrati tentang keingintahuan dari setiap manusia mengenai wujud dari hasil aktivitas yang telah diselenggarakannya, baik yang berdimensi kuantitas maupun yang mengarah pada aspek kualitas. Dengan demikian, penilaian dalam proses pembelajaran merupakan sebuah komponen yang tidak dapat disangsikan fungsi dan peranannya. Dengan kata lain bahwa kegiatan penilaian adalah sebuah bagian yang integral dalam proses pembelajaran itu sendiri.
Aktivitas penilaian memiliki signifikansi dengan proses pendidikan, khususnya yang berkenaan dengan kegiatan pembelajaran. Tanpa ada komitmen dan kemampuan yang relevan dengan proses penilaian itu, maka pendidikan yang diharapkan untuk memanusiakan manusia memungkinkan dapat beralih fungsi menjadi sebuah prosedur yang menafikan aspirasi dan kreatifitas peserta didik. Oleh karena itu, guru selaku pelaksana pendidikan dan pengajaran di sekolah dituntut untuk selalu memperbaharui ilmu pengetahuannya agar sejalan dengan kemajuan yang ada dalam masyarakatnya. Pembaharuan yang harus dilakukan guru tidak saja yang bersifat intern, seperti tuntutan profesionalitas selaku pengemban profesi keguruan. Tetapi juga pembaharuan yang bersifat ekstren, seperti memiliki gerak yang dinamis dalam masyarakatnya. Dengan demikian seorang guru adalah inovator di dalam lembaganya juga motivator bagi masyarakatnya.
Penilaian merupakan tuntutan kemampuan yang bersifat intern dalam profesi keguruan, yakni kemampuan seorang guru untuk mengukur dan menilai sejauh mana ia telah mampu memberikan ilmu pengetahuan kepada peserta didiknya.
Kiranya perlu dicatat bahwa dalam usaha pencapaian tujuan selalu terdapat jurang pemisah (gap) antara tujuan dan hasil yang dicapai. Karena itu, usaha-usaha yang serius harus dilakukan untuk :
a.       Menentukan tujuan yang realistis dan pragmatis.
b.      Menentukan standard kualitas pekerjaan yang diharapkan.
c.       Meneliti sampai pada tingkat apa standard yang telah ditentukan itu dapat dicapai.
d.      Mengadakan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan, baik penyesuaian rencana, pelaksanaan maupun cara memotivasi serta pengawasan. Penyesuaian dapat pula ditujukan terhadap tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (Siagian, 1981 : 141).
Kriteria di atas merupakan komponen-komponen yang perlu mendapatkan perhatian dalam setiap aktivitas proses penilaian. Artinya bahwa setiap kegiatan penilaian harus selalu tertuju pada ketentuan-ketentuan tersebut.
Dalam pendidikan, orang mengadakan evaluasi (penilaian) dapat memenuhi dua tujuan, yaitu :
(a)Untuk mengetahui kemajuan anak, atau orang yang didik setelah si terdidik tadi menyadari pendidikan selama jangka waktu tertentu.
(b)Untuk mengetahui tingkat efesiensi metode-metode pendidikan yang dipergunakan pendidikan selama jangka waktu tertentu (Buchari, 1983 : 7).
Berpangkal dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa proses penilaian dalam lembaga-lembaga pendidikan formal pada dasarnya ditujukan untuk mendapatkan informasi mengenai jarak antara situasi yang ada dengan kondisi yang diharapkan untuk memperoleh data yang akan memberikan gambaran tentang harapan-harapan yang tertuang dalam tujuan pembelajaran seperti yang ditetapkan sebelumnya. Tanpa ada kegiatan penilaian tidak akan mungkin seorang guru dapat mengembangkan atau memperbaiki proses pembelajaran yang dilaksanakan karena tidak tersedianya informasi yang akurat tentang kelebihan/keuntungan maupun kekurangan/kelemahan dari berbagai praktik-praktik yang telah dilakukannya di dalam proses pembelajaran itu sendiri. Demikian pula bahwa dengan kegiatan penilaian akan diperoleh data tentang sejauhmana penguasaan peserta didik terhadap bahan yang telah tersaji dalam interaksi belajar mengajar dan sekaligus juga dapat diketahui efektifitas dan efesiensi program pengajaran yang telah dilakukan.
Penilaian dalam proses belajar bertalian dengan tujuan yang hendak dicapai. Karena tujuan pendidikan pada umumnya bersifat kompleks, maka penilaiannya pun tidak mungkin sederhana. Dalam menilai tujuan yang hendak dicapai perlu diperhatikan aspek-aspek sebagai berikut.
a. Hasil belajar yang merupakan pengetahuan dan pengertian.
b. Hasil belajar dalam bentuk sikap dan kelakuan.
c. Hasil belajar dalam bentuk kemampuan untuk diamalkan.
d. Hasil belajar dalam bentuk keterampilan serta yang dilaksanakan dalam kegiatan sehari-hari (Rusyan, 1989 : 2010 – 2011).
Apabila diperhatikan beberapa aspek yang perlu dicermati dalam proses penilaian sebagai bidang garapan guru di sekolah, maka dapat dinyatakan pula bahwa pada hakekatnya kegiatan penilaian itu harus berorientasi pada ketiga aspek tujuan pendidikan, yakni aspek kongnitif, afektif dan psikomotor.
Di dalam perkembangan lembaga-lembaga pendidikan formal, di mana sampai saat ini masih harus diakui bahwa terdapat ketimpangan yang sangat mendasar yang dilakukan oleh para guru di sekolah tentang pelaksanaan penilaian, dimana guru-guru pada umumnya tidak memahami kualitas tes atau alat yang disusunnya.
Umumnya guru-guru yang melaksanakan tugas-tugas keguruan, pada setiap jenjang pendidikan dapat dikatakan memiliki berbagai keterbatasan kemampuan, baik yang disebabkan katena faktor intern dari guru-guru yang bersangkutan maupun yang disebabkan oleh keterbatasan fasilitas untuk berbuat secara optimal sesuai dengan tuntutan dari perkembangan ilmu pengetahuan itu sendiri. Oleh karena itu, tidak sedikit para ahli pendidikan yang memiliki asumsi bahwa guru-guru di lapangan masih belum mampu mengoptimalkan antara potensi yang dimilikinya dengan kenyataan-kenyataan yang semestinya dikerjakan. Salah satu di antaranya, sebagaimana dipaparkan di bawah ini.
Diakui atau tidak dan disadari atau tidak, praktik penilaian pendidikan yang berkembang sampai saat ini masih banyak mengalami kendala, hal ini bersumber dari ketidakmampuan akademis dari guru yang bersangkutan untuk melaksanakan proses penilaian di bidang tersebut. Dengan kata lain, guru kurang memahami penilaian secara mendalam. Kebanyakan guru tidak memiliki latar belakang pendidikan formal secara khusus dalam penilaian pendidikan. Di sebagian perguruan tinggi atau lembaga penghasil tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, kajian tentang penilaian pendidikan hanya diperoleh melalui beberapa mata kuliah saja atau bahkan satu mata kuliah saja. Sehingga bukanlah hal yang mengejutkan jika sebagian guru menggunakan tes yang sama dari tahun ke tahun. Sebagian guru bahkan berendapat bahwa mereka memberikan tes sebagaimana tes yang mereka terima. Hal ini dapat dibenarkan sepanjang guru menggunakan tes yang benar-benar baku dan dilakukan dengan cara yang baku pula. Namun terkadang guru menggunakan tes yang tidak dapat dijamin standarisasinya, dan tes yang cenderung sama digunakan dari tahun ke tahun (Supranata, 2004 : 70).
Setiap guru harus dapat melakukan penilaian tentang kemajuan yang dicapai para siswa, baik secara iluminatif-observatif maupun secara struktural-objektif. Makna dari kedua cara penilaian tentang kemajuan belajar tersebut, seperti terurai berikut ini.
Penilaian secara iluminatif-observatif dilakukan dengan pengamatan yang terus-menerus tentang perubahan dan kemajuan yang dicapai siswa. Sedangkan penilaian secara struktural-objektif berhubungan dengan pemberian skor, angka atau nilai yang biasa dilakukan dalam rangka penilaian hasil belajar siswa. Sungguhpun masih banyak kekurangan dan kelemahan, penilaian cara yang kedua (struktural-objektif) telah biasa digunakan oleh para guru. Namun penilaian cara yang pertama (iluminatif-observatif) masih belum biasa digunakan guru disebabkan kemampuan dan kesadaran akan pentingnya penilaian tersebut belum membudaya (Sudjana, 1989 : 21 – 22).
Dengan pendapat tersebut di atas, kiranya dapat disimpulkan bahwa masih terbatasnya kemampuan akademik dari para guru di dalam lembaga-lembaga pendidikan formal merupakan suatu kendala yang pasti untuk menuju pada kualitas pembelajaran yang relevan. Di samping itu, masih ada kecenderungan-kecenderungan negatifpada diri guru.
Tidak ada usaha yang lebih baik selain usaha untuk meningkatkan mutu tes atau non-tes yang. Namun hal ini tidak dilaksanakan karena kecenderungan seseorang untuk beranggapan bahwa yang menjadi hasil karyanya adalah yang terbaik atau setidak-tidaknya sudah cukup. Guru yang sudah banyak pengalaman, mengajar dan menyusun soal-soal tes/non-tes, juga masih sukar menyadari bahwa tesnya masih belum sempurna (Arikunto, 1987 : 199).
Gejala-gejala yang digambarkan di atas, pada dasarnya meliputi hampir semua pengemban profesi guru, sehingga pada akhirnya berdampak langsung pada semua mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, terutama dalam pencapaian tujuan pembelajaran yang berorientasi pada ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
Bertitik tolak dari fakta-fakta teori yang ada, maka perlu adanya suatu kegiatan penalaran yang dapat menjelaskan secara sistematis tentang kemampuan guru mata pelajaran dalam penilaian ranah kognitif, afektif dan psikomotor, baik yang dilakukan oleh guru itu sendiri maupun pihak lainnya.
2.      Proses Penilaian model Ten Brink
Ten Brink mengemukakan adanya tiga tahap evaluasi kurikulum yaitu pertama, tahap persiapan, adapun langkah-langkah nya adalah;
a.      Melukiskan secara spesifik petimbangan dan keputusan yang dibuat
b.      Melukiskan informasi
c.      Memanfaatkan informs yang telah ada
d.      Menentukan kapan dan bagaimana cara memperoleh informasi itu
e.      Menyusun dan memilih instrument pengumpulan informasi yang akan digunakan.
Kedua, tahap pengumpulan data melalui dua langkah yaitu; memperoleh informasi yang diperlukan dan menganalisis dan mencatat informasi.
Ketiga,tahap penilaian yang berisi kegiatan-kegiatan sebagai berikut;
a.     Membuat pertimbangan yang akan digunakan sebagai dasar pembuatan keputusan.
b.     Membuat keputusan yang merupakan suatu pilihan beberapa alternanif arah tindakan
c.      Mengikhtisarkan dan melaporkan hasil penilaian.



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Penilaian merupakan rangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil belajar peserta didik yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan. Pada tingkat mata pelajaran, kompetensi yang harus dicapai berupa Standar Kompetensi (SK) mata pelajaran yang selanjutnya dijabarkan dalam Kompetensi Dasar (KD). Untuk tingkat satuan pendidikan, kompetensi yang harus dicapai peserta didik adalah Standar Kompetensi Lulusan (SKL). Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan satuan pendidikan dalam mengelola proses pembelajaran. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan.
 Penilaian hasil belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang dicapai siswa dengan kriteria tertentu. Pengajar harus mengetahui sejauh mana pelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan dengan nilai. Hasil penilaian dapat dijadikan tolok ukur keberhasilan proses pembelajaran dan umpan balik bagi pendidik untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran yang dilakukan. Konsep penilaian yang digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar peserta didik, yaitu pengukuran, pengujian, penilaian, dan evaluasi.







Daftar Pustaka
Arikunto, Suharsimi, 1987, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara, Jakarta.
Buchari, M, 1983, Teknik-teknik Evaluasi dalam Pendidikan, Jemmars, Bandung.
Nurgiyantoro, Burhan, 2011, Penilaian Pembelajaran Bahasa Berbasis Kompetensi. BPFE Press, Yogyakarta
Rusyan, A. Tabrani; Atang Kusdinar dan Zainal Arifin, 1989, Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Remadja Karya CV, Bandung.
Siagian, P. Sondang, 1981, Filsafat Administrasi, Gunung, Agung, Jakarta.
Sudjana, Nana, 1989, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru Algensindo, Bandung.
Supranata, Sumarna dan Muhammad Hatta, 2004, Penilaian Portofolio Implementasi Kurikulum 2004, Remaja Rosdakarya, Bandung.





Rabu, 02 Desember 2015

this is us

this is us

My dear friends
do you still remember the days that we have been through that year? it was fun, wasnt it?
you guys should check the video sometimes... hehehe

Jumat, 16 Oktober 2015

the features of human language



The Features Of Human Language


The Features of Human Language
(adapted from Hockett, Charles. 1960. The Origin of Speech.)
Hockett isolated 13 features that characterize human language and which distinguish it from other communication systems. The following diagram graphically represents each of the thirteen features. Each feature is numbered and listed below the diagram, along with a more developed discussion of the feature.


1. Vocal-auditory channel -- This means that the standard human language occurs as a vocal (making sounds with the mouth) type of communication which is perceived by hearing it. There are obvious exceptions: writing and sign language are examples of communication in the manual-visual channel. However, the vast majority of human languages occur in the vocal-auditory channel as their basic mode of expression. Writing is a secondary, and somewhat marginal form of language, while sign languages are in limited use, mostly among deaf people who are limited in their ability to use the auditory part of the vocal-auditory channel.
2. Broadcast transmission and directional reception -- This means that the human language signal is sent out in all directions, while it is perceived in a limited direction. For spoken language, the sound perpetuates as a waveform that expands from the point of origin (the mouth) in all directions. This is why a person can stand in the middle of a room and be heard by everyone (assuming they are speaking loudly enough). However, the listener hears the sound as coming from a particular direction and is notably better at hearing sounds that are coming from in front of the them than from behind them.
3. Rapid fading (transitoriness) -- This means that the human language signal does not persist over time. Speech waveforms fade rapidly and cannot be heard after they fade. This is why it is not possible to simply say "hello" and have someone hear it hours later. Writing and audio-recordings can be used to record human language so that it can be recreated at a later time, either by reading the written form, or by playing the audio-record.
4. Interchangeability -- This means that the speaker can both receive and broadcast the same signal. This is distinctive from some animal communications such as that of the sticklefish. The sticklefish make auditory signals based on gender (basically, the males say "I'm a boy" and the females say "I'm a girl"). However, male fish cannot say "I'm a girl," although they can perceive it. Thus, sticklefish signals are not interchangeable.
5. Total feedback -- this means that the speaker can hear themself speak and can monitor their language performance as they go. This differs from some other simple communication systems, such as traffic signals. Traffic signs are not normally capable of monitor their own functions (a red light can't tell when the bulb is burned out, i.e.).
6. Specialization -- This means that the organs used for producing speech are specially adapted to that task. The human lips, tongue, throat, etc. have been specialized into speech apparati instead of being merely the eating apparati they are in many other animals. Dogs, for example, are not physically capable of all of the speech sounds that humans produce, because they lack the necessary specialized organs.
7. Semanticity -- This means that specific signals can be matched with specific meanings. This is a fundamental aspect of all communication systems. For example, in French, the word selmeans a white, crystalline substance consisting of sodium and chlorine atoms. The same substance is matched with the English word salt. Anyone speaker of these languages will recognize that the signal sel or salt refers to the substance sodium chloride.
8. Arbitrariness -- This means that there is no necessary connection between the form of the signal and the thing being referred to. For example, something as large as a whale can be referred to by a very short word. Similarly, there is no reason that a four-legged domestic canine should be called a dog and not a chien or a perro or an anjing (all words for 'dog' in other languages). Onomatopoeic words such as "meow" or "bark" are often cited as counter-examples, based on the argument that they are pronounced like the sound they refer to. However, the similarity if very loose (a dog that actually said "bark" would be very surprising) and does not always hold up across languages (Spanish dogs, for example, say "guau"). So, even onomatopoeic words are, to some extent, arbitrary.
9. Discreteness -- This means that the basic units of speech (such as sounds) can be categorized as belonging to distinct categories. There is no gradual, continuous shading from one sound to another in the linguistics system, although there may be a continuum in the real physical world. Thus speakers will perceive a sound as either a [p] or a [b], but not as blend, even if physically it falls somewhere between the two sounds.
10. Displacement -- This means that the speaker can talk about things which are not present, either spatially or temporally. For example, human language allows speakers to talk about the past and the future, as well as the present. Speakers can also talk about things that are physically distant (such as other countries, the moon, etc.). They can even refer to things and events that do not actually exist (they are not present in reality) such as the Easter Bunny, the Earth having an emperor, or the destruction of Tara in Gone with the Wind.
11. Productivity -- This means that human languages allow speakers to create novel, never-before-heard utterances that others can understand. For example, the sentence "The little lavender men who live in my socks drawer told me that Elvis will come back from Mars on the 10th to do a benefit concert for unemployed Pekingese dogs" is a novel and never-before-heard sentence (at least, I hope it is!), but any fluent speaker of English would be able to understand it (and realize that the speaker was not completely sane, in all probability).
12. Traditional Transmission -- This means that human language is not something inborn. Although humans are probably born with an ability to do language, they must learn, or acquire, their native language from other speakers. This is different from many animal communication systems where the animal is born knowing their entire system, e.g. bees are born knowing how to dance and some birds are born knowing their species of bird-songs (this is not true of all birds).
13. Duality of patterning -- This means that the discrete parts of a language can be recombined in a systematic way to create new forms. This idea is similar to Productivity (Feature 11). However, Productivity refers to the ability to generate novel meanings, while Duality of patterning refers to the ability to recombine small units in different orders.













Perbedaan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dan Penelitian Formal

Perbedaan PTK dan Penelitian Formal

Tugas Metodologi Pendidikan
Dosen : Mrs. Neniek MPd










Oleh : Nana Suryana
Prodi : Bahasa Inggris 2013





STKIP KUSUMA NEGARA JAKARTA KAMPUS CILEUNGSI
2015

Perberbedaan antara PTK dan penelitian pendidikan formal terangkum dalam tabel di bawah ini.
Table-tabel berikut berdasar dari beberapa pendapat yang di rangkum untuk membedakan penelitian tindakan kelas dengan penelitian formal biasa.

No
Penelitian pendikan formal
PTK
1
Dilakukan oleh orang di luar kelas, misalnya dosen, ilmuwan atau mahasiswa yang melakukan eksperimen tertentu
Dilakukan oleh kepala sekolah, guru atau calon guru
2
Di lingkungan dimana variable-variabel luar dapat dikendalikan
Di kelas dan di sekolah
3
Sampel harus representative
Representatif sampel tidak menjadi persyaratan penting
4
Mengutamakan validitas internal dan eksternal
Lebih mengutamakan validitas internal
5
Menuntut penggunaan analisis statistika yang rumit, menetapkan signifikansi lebih awal dan memeriksa hubungan sebab akibat antar variable
Tidak menuntut penggunaan statistic yang rumit, menggunakan metode kualitatif untuk mendeskripsikan apa yang terjadi dan memahami dampak suatu intervensi pendidikan (tindakan)
6
Men mpersyaratkan hipotesis
Tidak selalu menggunakan hipotesis
7
Mengembangkan teori dan tidak memperbaiki praktek pembelajaran secara langsung
Memperbaiki praktek pembelajaran secara langsung
8
Hasil penelitian dapat digeneralisasikan ke populasi yang lebih besar
Hasil penelitian merupakan peningkatan mutu pembelajaran di lingkungan pembelajaran tertentu tempat dilakukannya PTK
9
Berlangsung secara linier (bergerak maju)
Berlangsung secara siklik (berdaur)
10
Tidak kolaboratif dan individual
Kolaboratif dan kooperatif

Sumber: Susilo (2009)


NO
DIMENSI
PTK
PENELITIAN FORMAL
1
Motivasi
Tindakan
Kebenaran
2
Sumber masalah
Dia
gnosis status
Induktif-Deduktif
3
Tujuan
Memperbaiki praktik, sekarang dan di sini
Verifikasi & menemukan pengetahuan yang dapat digeneralisasi
4
Peneliti yang terlibat
Pelaku dari dalam (guru)
Orang luar yang tertarik
5
Sampel
Kasus khusus
Sampel yang representatif
6
Metodologi
Longgar tetapi berusaha untuk objektif, jujur, dan tidak memihak
Baku dengan objektivitas dan ketidakmemihakan yang terintegrasi (build-in objectivity & impartiality)
7
Penafsiran Hasil Penelitian
Untuk memahami praktik melalui refleksi oleh praktisi yang membangun
Mendeskripsikan, mengabstraksi, serta menyimpulkan dan membentuk teori oleh ilmuwan
8
Hasil Akhir
Siswa belajar lebih baik (proses dan produk)
Pengetahuan, prosedur, atau materi yang teruji.



Setiap jenis penelitian mempunyai karakteristik tersendiri. Demikian juga halnya dengan Penelitian Tindakan Kelas. Berbagai pendapat dari ahli pendidikan mengungkapkan tentang beberapa karakteristik PTK. Dikutip dari Bahan Pelatihan Dosen LPTK dan Guru Sekolah Menengah karya Raka Joni, Kardia Warman dan Hadisubroto tahun 1998, perbedaan karakteristik PTK dengan penelitian formal dapat dilihat pada tabel:
Pengertian PTK Penelitian tindakan di kelas Empat ide pokok dari pengertian semantik Penelitian tindakan
1. Penelitian tindakan adalah satu bentuk inkuiri atau penyelidikan yang dilakukan melalui refleksi diri
2. Penelitian Tindakan dilakukan oleh peserta yang terlibat dalam situasi yang diteliti, seperti guru, kepala sekolah atau siswa
3. Penelitian Tindakan dilakukan pada Situasi sosial, termasuk situasi pendidikan
4. Penelitian Tindakan bertujuan untuk memperbaiki : dasar pemikiran, kepantasan dari praktik-praktik, pemahaman terhadap praktik, atau lembaga tempat praktik dilaksanakan PT K adalah penelitian yang dilakukan oleh guru dalam kelasnya sendiri melalui refleksi diri, dengan tujuan untuk memperbaiki kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil
Karakteristik PTK
1. Masalah dalam PTK dipicu oleh munculnya kesadaran bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam praktik pembelajaran selama ini, dan perbaikan diprakarsai dari dalam diri sendiri
2. Self-reflective inquiry, guru mengumpulkan data dari praktiknya sendiri melalui refleksi diri
3. Dilakukan didalam kelas, sehingga fokus penelitian adalah kegiatan pembelajaran, yaitu interaksi guru-siswa
4. Tujuan PTK, untuk memperbaiki pembelajaran. Perbaikan dilakukan secara bertahap dan terus menerus. Sehingga PTK dikenal memiliki siklus pelaksanaan berupa pola : perencanaan- pelaksanaan-observasi-refleksi-revisi (perencanaan ulang)
Kondisi Persyaratan PTK Sekolah harus memberikan kebebasan yang memadai bagi guru untuk melakukan PTK Birokrasi dan hirarki organisasi di sekolah hendaknya diminimalkan Sekolah seharusnya selalu mempertanyakan apa yang diinginkan sekolahnya Keterbukaan dari semua staff sekolah Kepala sekolah dan staf administrasi harus menunjang terjadinya pembaharuan Guru dan siswa harus mempunyai rasa percaya diri yang tinggi Guru harus siap menghadapi kecemburuan social

Sedangkan penelitian Formal adalah bentuk penelitian umum yang tidak terikat kedalam kelas dan dapat di lakukan dimana saja dengan tujuan mengetahui hasil dari sesuatu atau mengukur kepantasan sesuatu.